Memotret "SINCERE" di Area Kerja UG Expansion


16 September 2022


Artikel oleh Anang Dianto - Juara 1 Lomba Menulis Artikel SINCERE 2022

Secara acak, penulis melakukan wawancara (bertanya secara langsung) kepada 10 karyawan muda dan 10 karyawan pratama yang ada di area UG Expansion mengenai arti dari SINCERE. Dari 10 karyawan muda, sebanyak 8 orang dapat menjawab dengan benar sempurna sedangkan 2 karyawan lain menjawab dengan tidak sempurna. Sedangkan untuk karyawan pratama hanya 5 orang saja yang dapat menjawab dengan sempurna, 5 orang sisanya menjawab tidak tahu dan menjawab dengan tidak sempurna.

Meskipun wawancara di atas tidak dapat mewakili seluruh populasi karyawan UG Expansion, namun dapat kita jadikan sebagai secuil potret untuk instropeksi bahwa belum semua karyawan memahami pesan pentingya nilai-nilai perusahaan yang tercakup dalam SINCERE. Kita harus mempunyai pemahaman bersama bahwa nilai-nilai SINCERE bukan hanya untuk manajemen atau supervisor, tetapi untuk seluruh karyawan yang ada di dalam PTFI tanpa terkecuali.

Seberapa penting nilai-nilai perusahaan untuk karyawan dan untuk perusahaan itu sendiri? Core value adalah sesuatu yang berperan sebagai kompas internal perusahaan yang memberikan arahan yang jelas bagi perusahaan dan merupakan kunci dalam menetapkan keputusan dan kebijakan di dalam perusahaan. (Sherman, 2005). Jadi tanpa core value, perusahaan akan kehilangan “kompas internal”-nya termasuk bagi karyawan dalam perusahaan tersebut juga akan bekerja dalam kondisi tanpa arah yang pasti.

Marilah kita sama-sama memahami bahwa nilai-nilai perusahaan dalam SINCERE sangatlah penting untuk perusahaan dan untuk karyawannya!
 
Potret Safety
Setiap hari jumat, di UG Expansion (Central Services Division) diadakan program “Tool Box Meeting with Management”, jadi tool-box meeting yang diadakan oleh crew di lapangan akan didampingi dan diikuti langsung oleh management/ perwakilannya. Dengan demikian, management dapat memantau secara langsung apakah tool box meeting (sekaligus pertemuan Fatal Risk Management) sudah dilaksanakan dengan baik dan benar. Selain itu, program ini juga untuk memastikan safety concerns yang dibahas di tingkat management sampai ke tingkat yang paling bawah. Begitupun sebaliknya, dari crew di tingkat yang paling bawah dapat menyampaikan kritik dan saran yang membangun mengenai safety langsung ke pihak management/ perwakilannya.

Ada lagi program yang berjalan cukup baik di UG Expansion yaitu Audit Terfokus yang diadakan oleh Safety Department Central Services. Tim Safety Divisi setiap minggunya melakukan audit terfokus mengenai satu hal di seluruh area kerja Central Services Division, antara lain Audit Alat Pelindung Diri (APD), Audit Kendaraan Bergerak, Audit Scaffolding di setiap lokasi kerja, Audit Alat Angkat, Audit Hand Tools, dan lain sebagainya. Program tersebut dapat memetakan secara rinci mengenai kondisi alat-alat, perlengkapan dan juga kepatuhan safety di seluruh area kerja. Hasil audit terfokus akan dikirimkan ke masing-masing area owner untuk dilakukan follow-up.

Masih ada beberapa program lagi yang berjalan cukup baik di lingkungan UG Expansion. Namun yang lebih penting dari program-program tersebut adalah kesadaran setiap karyawan bahwa safety bukanlah sekadar program, bukan juga sekadar target apalagi hanya sekadar jargon.

Safety adalah kebutuhan kita sendiri, dengan sadar dan peduli terhadap safety maka kita akan senantiasa ingat tanpa diperingatkan dan akan senantiasa patuh tanpa diperintah!

Masih ada beberapa tantangan mengenai safety di UG Expansion, di antaranya kesadaran mengenai pelaporan Nearmiss yang masih terbilang rendah. Walaupun 3 tahun terakhir ini angka pelaporan mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 32 laporan di tahun 2020, 44 laporan di tahun 2021 dan di tengah tahun 2022 sudah ada 45 laporan. Tetapi jumlahnya masih di bawah yang diharapkan jika dibandingkan dengan jumlah kecelakaan yang terjadi.

Dalam bukunya Industrial Accident Prevention, A Scientific Approach (1931), Heinrich mengatakan bahwa “Di tempat kerja, untuk setiap kecelakaan yang menyebabkan luka berat, terdapat 29 kecelakaan yang menyebabkan luka ringan dan 300 kecelakaan yang tidak menimbulkan luka (nearmiss)”, yang kita kenal sebagai piramida kecelakaan. Oleh karena itu, pelaporan nearmiss sangatlah penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan cidera ringan dan cidera berat.

Banyak penyebab karyawan masih enggan untuk melaporkan nearmiss, di antaranya karena ada rasa takut apabila laporan tersebut dapat menyebabkan pelapor mendapatkan sanksi, atau karena tidak tahu alur dan cara pelaporannya. Oleh karena itu, penting bagi supervisor untuk melakukan coaching pada karyawan mengenai pelaporan nearmiss supaya memberikan kesadaran jika laporan tersebut penting untuk melakukan evaluasi untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan cidera atau kerusakan property.

 

Potret Integrity
Secara ringkas, integritas dapat kita pahami seperti quote dari penulis asal Inggris C. S. Lewis, “Integrity is doing the right thing, even when no one is watching.”
Seringkali integritas dianggap sebagai sebuah nilai yang hanya melekat pada sosok pemimpin (supervisor), padahal integritas seharusnya dimiliki oleh setiap individu (karyawan). Potret sederhana nilai integritas yang melekat pada karyawan adalah soal kepatuhan. Integritas seorang karyawan diuji apakah karyawan tersebut patuh terhadap sebuah aturan walupun tidak ada yang mengawasi. Misalnya saja menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) di tempat kerja, menggunakan sabuk pengaman di bus, membuang sampah pada tempatnya, tidak menitip absen, tidak lao-lao saat bekerja, dan lain sebagainya.

Di UG Expansion, penulis mengamati ada beberapa hal yang layak diapresiasi dalam konteks integritas yang ditunjukkan karyawan yaitu etos kerja dalam menyelesaikan target-target KPI Project. Secara umum karyawan menunjukkan etos kerja yang tinggi, baik saat ada atasan maupun saat tidak ada atasan, artinya karyawan sudah memiliki integritas dalam menyelesaikan pekerjaan.
 
Bagi supervisor, integritas di lapangan ditunjukkan dengan tidak melempar tanggungjawab. Supervisor harus berani dalam mengambil tanggungjawab baik dalam menyelesaikan target pekerjaan maupun tanggungjawab di luar pekerjaan, misalnya menyelesaikan masalah antar karyawan, melakukan coaching-conseling serta tanggungjawab dalam hal keselamatan crew-nya.

Namun, masih ada potret kecil tentang integritas yang harus dijadikan bahan instropeksi bersama di area UG Expansion yaitu masih ditemukan ketidakjujuran mengenai kerusakan alat-alat atau property perusahaan. Misalnya, ada motor kompresor yang rusak terbakar karena dihidupkan tanpa proteksi, tetapi tidak ada yang mengakui siapa yang mengoperasikan motor kompresor tersebut. Contoh lainnya ditemukan kerusakan di body Light Vehicle (LV), tetapi tidak ada yang mengakui siapa yang menyebabkan kerusakan tersebut.

Marilah menunjukkan integritas di tempat kerja, dengan begitu aktivitas pekerjaan kita akan lebih diberkati!

 

Potret Commitment
Commitment dapat dikatakan sebuah ikatan yang menyatukan dua pihak, di lapangan nilai commitment dapat dilihat dari banyak dimensi ; Commitment bawahan terhadap atasannya, karyawan kepada perusahaannya, pekerja kepada client-nya, bahkan commitment seorang individu terhadap Tuhannya dapat kita lihat potretnya di lokasi kerja.

Sebagai perusahaan tambang kelas dunia, PT Freeport Indonesia mempunyai komitmen yang besar terhadap lingkungan hidup dan juga keterikatannya dengan pemerintah Indonesia baik dalam menjamin keselamatan maupun kesejahteraan karyawannya. Oleh karena itu, marilah kita bantu perusahaan kita untuk mewujudkan commitment-nya tersebut sesuai dengan job description masing-masing.

Bantuan commitment apa yang dapat kita berikan? Misalnya saya yang bekerja sebagai engineer, ikut membantu menyediakan drawing dan design sesuai kaidah peraturan perundangan yang berlaku. Contoh konkret dalam design sebuah bangungan Shop Equipment harus disertai dengan pengelolaan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) dan Oily Water Separator (OWS). Dengan demikian kita sudah membantu mewujudkan commitment perusahaan terhadap lingkungan hidup dan juga peraturan pemerintah Indonesia.

Contoh lain yang dapat dilakukan bagi karyawan di lapangan misalnya pengelolaan yang baik material B3 (cat, thinner, grouting, dan lain lain) supaya tidak mencemari lingkungan, melaporkan setiap tumpahan B3 yang ada di lokasi kerja, dan lain sebagainya. Di area UG Expansion, beberapa kali audit terfokus internal sudah dilakukan untuk merekam kepatuhan mengenai pengelolaan B3 di lokasi kerja/ project.

Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Memotret “SINCERE” di Area Kerja UG Expansion
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Memotret “SINCERE” di Area Kerja UG Expansion
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Memotret “SINCERE” di Area Kerja UG Expansion
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Memotret “SINCERE” di Area Kerja UG Expansion
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area
Capturing SINCERE in the UG Expansion Work Area


Potret Respect
Tak terbantahkan lagi bahwa perusahaan kita menjadi perusahaan dengan karyawan yang sangat beragam dari segi latar belakang suku, bahasa, agama, ras, usia, juga latar belakang pendidikan. Beragamnya latar belakang tersebut, akan semakin beragam juga cara berpikir, cara pandang dan cara berkomunikasi. Dengan begitu, nilai Respect menjadi sangat vital untuk menjaga keharmonisan di area kerja.

Di lokasi kerja UG Expansion, hampir tidak pernah ada konflik atau permasalahan yang berkaitan dengan perselisihan antar karyawan yang disebabkan oleh perbedaan. Bahkan, dengan adanya perbedaan-perbedaan di antara karyawan itu akan tercipta rasa saling support dan saling melengkapi. Misalnya, setiap hari jumat bagi karyawan Muslim harus menjalankan sembahyang sholat jum’at, maka umat Kristiani akan mensupport “ah sudah sana siap-siap sembahyang, biar pekerjaan kita yang urus dulu..”. Begitu juga sebaliknya, setiap hari minggu saat karyawan Kristiani akan menjalankan ibadah Minggu, maka karyawan Muslim akan melakukan hal yang sama untuk men-support pekerjaan supaya tetap berjalan.

Potret nilai respect lainnya di lokasi kerja juga berkaitan dengan rentang usia karyawan, misalnya ada supervisor (leader) yang usianya jauh lebih muda dari beberapa orang crew yang harus dipimpinnya. Selama ini kondisi tersebut berjalan baik-baik saja, selama supervisor yang lebih muda berhasil menunjukkan kapabilitasnya serta mempunyai cara berkomunikasi yang baik dan bijak kepada crew yang usianya lebih tua.

Masih banyak sekali potret nilai respect di lokasi kerja, perusahaan kita dapat dikatakan sudah berhasil dalam membina nilai respect di antara sesama karyawan. Keberhasilan tersebut salah satunya didukung dengan diadakannya pelatihan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM), penyediaan Hotline pengaduan, event-event kebudayaan di jobsite, dan juga sanksi tegas dari perusahaan jika ada karyawan yang terbukti melakukan tindakan yang tidak menghormati perbedaan di lokasi kerja.
Marilah sebagai karyawan kita menjaga kondisi harmonis ini dengan saling memberikan rasa hormat!

 

Nilai Excellence adalah tujuan kita!
Jika kita mencermati visi PTFI, jelas tertulis bahwa perusahaan ingin menciptakan nilai-nilai unggul. Di era global yang sangat competitive ini, nilai unggul sangat kita butuhkan untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Dengan begitu kita dituntut untuk mengembangkan kreasi dan inovasi, serta memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan lingkungan. Penghargaan- penghargaan kecil perlu diberikan kepada karyawan/ tim di lokasi kerja, supaya tercipta lingkungan yang competitive sehingga masing-masing karyawan/ tim dapat menunjukkan kinerja terbaiknya. Dengan begitu, kita dapat mencapai nilai keunggulan secara bersama-sama.

 

Kesimpulan
Jika dikumpulkan potret-potret Nilai SINCERE di lokasi kerja, kita akan mendapat gambaran bahwa sebenarnya karyawan telah memiliki kesadaran dan telah menjalankan Nilai SiINCERE dengan motivasinya masing-masing. Tetapi nilai-nilai tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat hitam-putih, jadi tidak dapat kita lihat secara jelas batasan-batasannya. Yang terpenting bagi perusahaan adalah melakukan internalisasi terus-menerus kepada karyawan, sehingga Nilai SINCERE dapat semakin tertanam dan mengakar sehingga perusahaan dapat bergerak dengan seirama. Seperti kompas, SINCERE harus menjadi pijakan dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan, sehingga PTFI dapat berjalan sesuai arah menuju visi perusahaan





Kembali Ke List