Ketika Raksasa Pengunyah Bijih Tambang Terlahir Kembali
Pernah membayangkan bagaimana batuan keras dari perut bumi bisa berubah menjadi butiran halus berisi tembaga, emas, dan perak? Semua itu bermula dari sebuah mesin besar bernama Semi-Autogenous Grinding (SAG) Mill.
SAG 1, SAG 2, dan SAG 3 telah menjadi tulang punggung proses pengolahan bijih di PTFI. Setiap jam, ribuan ton batuan digiling menjadi material halus untuk kemudian diekstraksi lebih lanjut. Kini, setelah hampir tiga dekade beroperasi, SAG Mill 2 memasuki babak baru dalam perjalalanannya: proses refurbishment menyeluruh yang menghadirkan sistem penggerak modern, efisien, dan ramah energi.
Inilah enam fakta menarik di balik kelahiran kembali SAG Mill 2, yang kini tampil dengan teknologi baru dan siap mendukung operasi PTFI:
1. Memiliki Sejarah Panjang

SAG Mill 2 mulai dibangun di dataran tinggi Papua pada 1997 dan resmi beroperasi pada 1998. Sejak itu, selama 27 tahun, mesin raksasa ini telah menggiling lebih dari 810 juta DMT (Dry Metric Ton) bijih, atau setara dengan berat 80.000 Menara Eiffel.
2. Pembongkaran Lebih dari 1.000 Ton Komponen

Total lebih dari 1.000 ton komponen utama dan pendukung harus dilepaskan satu per satu, termasuk empat segmen utama dengan berat sekitar 80 ton per bagian. Di ruang kerja yang hanya berukuran 172 x 320 kaki, atau kira-kira 70 persen dari luas lapangan sepak bola FIFA, tantangan terletak pada minimnya ruang bebas.
“Pembongkaran SAG Mill yang berbentuk silinder horizontal ini seperti memotong tangki baja raksasa berdiameter 38 feet menjadi empat bagian, lalu memindahkan setiap bagiannya keluar pabrik pengolahan,” ujar Aris Wahyu Raharjo, Senior Manager of Concentrating Maintenance.
3. Setiap Kuadran Menempuh Perjalanan Tujuh Hari Menuju Dataran Tinggi

Setiap kuadran stator SAG Mill 2 memiliki berat lebih dari 83 ton. Untuk membawanya dari dataran rendah ke dataran tinggi, tim logistik harus menempuh perjalanan menantang selama tujuh hari tiap segmen, melewati jalur pegunungan Papua yang curam, berliku, dan berada di ketinggian lebih dari 3.000 mdpl, di mana oksigen lebih tipis.
“Kuadran dimuat dari dataran rendah, lalu direposisi beberapa kali agar dapat melewati Hannekam Tunnel di MP58. Setibanya di dataran tinggi, kuadran bahkan harus bermalam di beberapa titik sebelum akhirnya tiba di area pabrik. Instalasi kuadran di dalam building SAG2 yang mempunyai ruang sangat terbatas juga membutuhkan lifting plan yang sangat detail, ” tutur Bartholomeus Dewantoro, Senior Manager Central Services.
4. Kini Menggunakan Teknologi Gearless Motor Drive (GMD)

Modernisasi SAG 2 menghadirkan teknologi GMD (Gearless Motor Drive) buatan Siemens, yang merupakan teknologi motor tanpa roda gigi yang digerakan oleh medan magnet untuk memutar drum penggilingan. Hasilnya, pergerakan mesin menjadi lebih halus serta risiko gangguan mekanis dapat diminimalkan.
Project Manager Engineering New Orleans, Neil Vance Marinello, mengatakan: “Tidak ada satupun aspek pekerjaan yang bisa ditiru dari desain lama. Semua harus disesuaikan dengan beban baru yang jauh lebih besar dan setiap tahap dikerjakan dengan pengawasan kualitas yang sangat ketat.”
5. Mesin Baru yang Lebih Efisien

Mesin SAG 2 memiliki kapasitas penggilingan hingga 6.000 ton per jam, setara dengan kapasitas SAG 3. Dengan mesin yang baru, efisiensi mesin meningkat drastis karena hanya menggunakan satu motor berdaya 20 megawatt, menggantikan dua motor lama yang lebih boros energi.
Seluruh sistem GMD SAG 2 juga dilengkapi dengan smart analytics dan online monitoring yang memungkinkan deteksi gangguan secara real-time, memperpanjang interval perawatan, dan meningkatkan efisiensi energi.
6. Melibatkan Pekerja Lintas Divisi dan Lokasi

Seluruh divisi PTFI bekerja berdampingan dengan mengedepankan disiplin keselamatan yang tinggi, mulai dari Central Services, Concentrating, Fleet Operation Support, Grasberg Earthworks, hingga Operations Maintenance. Salah satu tantangan terbesar proyek ini adalah bagaimana menyusun pola kerja yang presisi di area yang penuh fasilitas eksisting. Jadwal pembongkaran, posisi alat angkat, hingga siapa yang boleh berada di lokasi pada jam tertentu, harus disinkronkan dengan pekerjaan kritikal lain yang harus bersamaan.
Di tengah ritme kerja, dua hambatan besar sempat muncul. Pertama, tim menemukan ketidaksesuaian pada permukaan pondasi eksisting, sehingga perlu dilakukan penyesuaian struktural secara cepat sambil berkoordinasi dengan para ahli di New Orleans. Kedua, gangguan pada Crane Telescopic 250-ton membuat tim harus mengubah seluruh rencana pengangkatan dan mencari cara baru dengan memaksimalkan alat berat yang tersedia, bahkan sampai mendatangkan tenaga ahli mekanik langsung dari Jakarta.
“Komunikasi yang baik antar tim menjadi kunci. Setiap pihak punya peran yang penting agar semua berjalan dengan aman dan lancar,” ujar Akhmad Ulya Hidayat, Vice President Central Services.

Pada akhirnya, setelah lima bulan proses yang intens— satu bulan lebih cepat dari perencanaan awal— dan berkat dedikasi penuh yang melibatkan 330 personel dan pemangku kepentingan, serta mencatat lebih dari 700.000 jam kerja aman tanpa kecelakaan, momen pengujian operasional dan first turning SAG Mill 2 menjadi penanda lahirnya kembali sang raksasa baja. Berawal dari mesin tua yang sempat terdiam, SAG 2 kembali berputar dan lebih siap menghadapi tantangan produksi masa depan PTFI.
Teknologi akan selalu berubah dan diremajakan, tetapi semangat dan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat di baliknya akan tetap menjadi tenaga penggerak sejati perusahaan.
Kembali Ke List




