Anak-anak Freeport: Generasi Penerus Yang Penuh Semangat dan Kreativitas
Anak-anak yang tinggal di Tembagapura, meskipun jauh dari pusat keramaian kota, menunjukkan potensi luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk seni dan music. Lingkungan yang mungkin dianggap terpencil ini ternyata menjadi lahan subur bagi tumbuhnya minat dan bakat yang beragam. Recital drum anak-anak Freeport (24/05) adalah salah satu contoh konkret yang menyoroti bakat musik mereka. Kemampuan mereka dalam memainkan alat musik seperti drum tidak hanya menunjukkan latihan yang tekun, tetapi juga semangat dan kreativitas yang tinggi.
Les drum yang diinisiasi oleh orang tua dari minat anak-anak ini diadakan seminggu sekali, durasinya sekitar 30 hingga 40 menit. Di sana, anak-anak belajar sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing.
Menjelang akhir tahun ajaran, para orang tua dan guru drum mereka menggelar Recital Drum untuk pertama kalinya di Tembagapura. Tujuan utama dari recital drum ini adalah untuk membangun rasa percaya diri anak-anak saat tampil di depan umum. "Recital ini juga untuk menunjukkan bahwa bermain drum itu asik," ujar salah seorang orang tua.
Adina, salah satu drummer cilik peremuan yang duduk dikelas 4 di Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ), adalah salah satu pemain drum yang tampil dalam recital bulan Mei lalu. "Adina belajar drum sudah satu semester. Belajar drum seru banget," katanya, dengan mata berbinar. "Waktu recital, Adina memainkan lagu Yellow dan Best Day of My Life," lanjutnya, bangga.
Ernest, yang sudah setahun ini belajar bermain drum, berhasil memberikan penampilan yang luar biasa dengan membawakan lagu The Reason oleh Hoobastank. Orang tua dan komunitas Tembagapura yang hadir di Atrium Shopping keluarga terlihat menimati lagu ini sembari bernyanyi dan bergoyang saat Ernest tampil. Walaupun kelak ia bercita-cita menjadi seorang engineer, Ernest ingin kemampuan bermain drumnya menjadi bekal berharga di masa depan. Mungkin untuk pelayanan di gereja atau kegiatan positif lainnya, katanya.
Senada dengan Ernest, Alfredo juga berkeinginan menyalurkan keterampilan bermain drumnya untuk kegiatan gereja dan hal-hal positif lainnya. Alfredo, yang kini duduk di bangku kelas 1 SMP, sudah mulai belajar drum sejak kelas 2 SD. "Main drum itu unik dan juga menantang, bukan sekadar pukul-pukul saja," tutur Alfredo. "Kalau belajar lagu baru, awalnya memang susah, tapi kalau diulik terus pasti bisa," tambahnya, penuh keyakinan. Alfredo punya harapan besar untuk bisa mengajarkan bermain drum kepada anak-anak kelak.
Peserta recital drum termuda tahun ini adalah Benaiah, yang baru belajar drum selama tiga bulan. Nam
un, semangat dan kelincahannya tidak kalah dari para drummer yang lebih senior. Ben (6 tahun), yang memang sangat menyukai musik, tampil dengan percaya diri membawakan lagu Baby Shark. "Selain memang Ben suka main musik, kami juga ingin melatih koordinasi tangan dan mata serta kelenturan dan kekuatan otot-otot jari atau motorik halusnya, yang penting untuk menulis," kata Mama Ben saat ditanya mengenai alasannya memilih les drum.
Sungguh luar biasa melihat bagaimana kegiatan positif yang dimulai dari hal kecil seperti ini dapat menjadi barometer komitmen berbagai pihak. Ini menunjukkan upaya serius untuk menjamin setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Hal ini sejalan dengan semangat Hari Anak Nasional yang menekankan pentingnya memfasilitasi dan mengapresiasi setiap potensi yang dimiliki anak-anak Indonesia.
PT Freeport Indonesia (PTFI) secara konsisten menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan generasi muda, termasuk anak-anak yang berada di sekitar wilayah operasionalnya. Salah satunya melalui Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) dan Asrama Tomawin, PTFI menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, guna memastikan anak-anak karyawan dan masyarakat sekitar mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Selain itu, PTFI juga aktif dalam memfasilitasi pengembangan bakat dan minat, seperti yang terlihat dari dukungan pada kegiatan recital drum ini.
Kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas hidup karyawan, yang merupakan salah satu komitmen penting perusahaan. Upaya ini tidak hanya terbatas pada aspek akademis, tetapi juga mencakup pengembangan karakter dan kreativitas, mempersiapkan mereka menjadi individu yang tangguh dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Bahkan, PTFI juga berupaya membawa talenta muda Papua ke kancah internasional, menunjukkan visi besar perusahaan dalam membina generasi penerus. (Baca 18 Siswa PFA Bertolak Menuju Turnamen Gothia Cup 2025) Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli.
Kembali Ke List




.jpg)
