Pentas Budaya Siswa SD YPJ Tembagapura Dukung Pelestarian dan Pertukaran Budaya
Mimika, 31 Mei 2026 – Ratusan siswa Sekolah Dasar (SD) Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Tembagapura menampilkan pentas budaya Indonesia sebagai upaya mencintai kekayaan tradisi dan menumbuhkan rasa bangga terhadap keberagaman bangsa.
“Pentas budaya kali ini ditampilkan dalam bentuk yang sangat simbolis, mulai dari pakaian adat, atribut, hingga alunan instrumen musik dan lirik lagu daerah yang menyatu menyuarakan kecintaan kita terhadap kekayaan budaya Indonesia,” kata Kepala SD YPJ, Maria Easter Lusiana di Gedung Sport Hall Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat, 29 Mei 2026.
Ia menjelaskan anak-anak tampil dalam pementasan yang menggabungkan lagu-lagu daerah dan tarian Nusantara. Perpaduan tarian serta lantunan lagu dari delapan etnik, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua melebur dalam suasana kebinekaan.
Siswa kelas 4 SD YPJ, Zergio (10) meluapkan kegembiraannya sesaat setelah menampilkan Tari Ksatria yang merupakan tarian kreasi Swargaloka. Dalam tarian ini terkandung nilai-nilai moral dan luhur yang sarat dengan semangat hidup dalam berbangsa dan bernegara melalui semangat juang, menegaskan bahwa kendali hidup kita berada di tangan kita sendiri.
“Selain berlatih menari, saya dan teman-teman juga harus belajar adat, budaya dan kebiasaan suku Jawa. Saya dan teman-teman di kelas sudah giat berlatih bersama, jadi saya semangat untuk membawakan penampilan ini,” ujar Zergio yang juga merupakan penerima beasiswa pendidikan Tomawin dari PT Freeport Indonesia (PTFI).
Pentas budaya merupakan acara tahunan yang dilakukan untuk menampilkan seni dan kreativitas sehingga siswa mampu mengekspresikan ide, mengasah bakat, serta mengembangkan rasa percaya diri mereka melalui seni dan budaya.
Easter menjelaskan pentas budaya ini turut memperkuat delapan dimensi profil lulusan dalam Kurikulum Merdeka. Aspek kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemandirian berkembang secara alami melalui proses penciptaan dan pementasan pentas budaya ini. Di sisi lain, penalaran kritis diasah ketika siswa merancang konsep dan memahami makna budaya yang ditampilkan.
Salah satu orang tua siswa, David Bettay yang menyaksikan pentas ini mengungkapkan kekagumannya terhadap anak-anak yang telah giat mempelajari seni dan budaya dari suku daerah lain, mengikuti proses latihan, kerja tim, hingga berani tampil di depan publik.
“Pentas budaya ini mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab atas perannya, berani mencoba, dan yang terpenting mereka punya peran untuk mewariskan ini. Keberagaman seni dan budaya Indonesia harus kita lestarikan,” kata David.
Kembali Ke List





