Di sepanjang muara Sungai Ajkwa – yang dulunya mengalami tekanan akibat dampak lingkungan – kini mulai pulih. Pemulihan ini bukan sebuah kebetulan – ini adalah hasil dari upaya selama bertahun-tahun untuk merawat lingkungan dan ekosistem sekitarnya.
“Masih banyak anggapan bahwa PTFI hanya fokus pada penambangan. Namun faktanya, PTFI memiliki komitmen jangka panjang dalam menjaga dan memulihkan lingkungan,” kata Chris Zimmer, EVP Technical Services. “Saya menyaksikan sendiri bagaimana tim Environmental bekerja dengan penuh semangat dan tanggung jawab setiap hari untuk merawat ekosistem di sekitar wilayah operasi”, tuturnya.
Dari Dampak Menjadi Tindakan Nyata
Selama bertahun-tahun, muara ini mengalami perubahan signifikan, terutama karena sedimentasi yang terbawa dari aktivitas tambang melalui aliran sungai ini. Endapan pasir dan mineral tersebut memengaruhi aliran Sungai dan mengganggu keanekaragaman hayati lokal. Menyadari pentingnya bertindak, PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui divisi Environmental memulai program restorasi lingkungan secara komprehensif.
Komitmen ini dimulai 20 tahun lalu pada tahun 2004, saat mulai menanam tanaman bakau di sepanjang garis pantai. Seiring berjalannya waktu, yang dimulai sebagai petak-petak bibit tanaman bakau tumbuh menjadi hutan bakau yang hingga kini mencakup sekitar 994,39 hektar dan membentuk sekitar 1.000 hektar ekosistem hutan bakau. Sejak tahun 2023, divisi Environmental terus berupaya menargetkan penanaman tanaman bakau sedikitnya 500 hektar per tahunnya.
Bagian dari pemulihan ini termasuk memperkenalkan kembali biota akuatik asli seperti ikan barramundi dan kepiting bakau. Pada 19 Mei 2025, acara restocking pertama berlangsung saat departemen Environmental melepaskan 10.000 anakan ikan barramundi dan 500 indukan kepiting bakau di pulau Tipuka yang terletak di muara Ajkwa
untuk mendukung keseimbangan ekologis dan membantu menghidupkan kembali rantai makanan.
“Hasil survey yang kami lakukan bersama Universitas Papua (UNIPA) menunjukkan bahwa ikan barramundi dan kepiting bakau merupakan dua komoditas paling bernilai bagi masyarakat pesisir,” Gesang Setyadi, VP Divisi Environmental menjelaskan. “Karena itu, upaya pelestarian keanekaragaman hayati perairan menjadi prioritas penting bagi PTFI, mengingat ekosistem ini juga menjadi penopang ekonomi lokal.”
Kolaborasi Ahli, Dipandu Ilmu Pengetahuan
Pemulihan ini bukanlah tugas satu tim. Ini merupakan pencapaian bersama, dedikasi dari ilmuwan lingkungan, ahli kelautan dan hutan bakau, spesialis kualitas air, masyarakat lokal yang hidup sepanjang garis pantai dan juga pemerintahan. Setiap orang memiliki peran penting dalam merancang dan melaksanakan upaya restorasi. Berbagi ilmu memastikan bahwa setiap langkah berlandasan ilmu pengetahuan dan selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan.
Pemantauan yang teratur adalah inti dari program ini. Data secara konsisten dikumpulkan dan dianalisa dari keanekaragaman hayati perairan, pengembangan hutan bakau, kesehatan perikanan, dan dinamika oseanografi. Siklus penilaian dan tindakan yang berkelanjutan yang membuat inisiatif ini adaptif, transparan, dan terukur.
Selain data dan keahlian teknis, kekuatan terbesar dari inisiatif ini adalah komitmen bersama. Para karyawan yang telah berkontribusi secara aktif pada kemajuan muara. Dedikasi mereka mencerminkan budaya di mana tanggung jawab lingkungan bukanlah sebuah tugas, melainkan nilai yang dijalani setiap hari.
Menatap Masa Depan: Memulihkan Lebih dari Sebuah Lahan
Hasil positif mulai terlihat – dengan perairan yang lebih sehat, kembalinya kehidupan laut, dan peningkatan keanekaragaman hayati – upaya pemulihan ini terus berlanjut. PTFI telah menetapkan target jangka panjang: memulihkan hingga 10.000 hektar garis pantai dengan hutan bakau pada tahun 2032.
Ini bukan hanya tentang restorasi lingkungan – ini tentang meninggalkan warisan kepedulian. Sebuah komitmen untuk mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang, dan sekaligus bukti nyata bahwa kegiatan tambang dan pemulihan lingkungan bisa berjalan berdampingan.
Karena saat alam mulai pulih, kepercayaan ikut tumbuh. Saat pesisir kembali hidup, kita semua ikut merasakan manfaatnya. (imarisch)
.
Kembali Ke List





.png)