Keselamatan kerja kerap dipersepsikan hanya sebagai seperangkat aturan atau atribut yang wajib dipatuhi. Padahal esensi safety jauh lebih dalam-- yaitu kebutuhan mendasar manusia.
Perspektif ini sejalan dengan teori hierarki kebutuhan oleh Abraham Maslow, yang menempatkan safety needs tepat setelah kebutuhan fisiologis. Sebelum seseorang mampu mencapai performa terbaiknya, rasa aman harus lebih dulu terpenuhi, baik aman secara fisik maupun psikologis.
Dalam praktiknya di lingkungan kerja, tantangan utama sistem keselamatan dalam sebuah instansi bukan terletak pada jenis atau kelengkapan kebijakan, melainkan pada implementasinya. Kebijakan tanpa pelaksanaan hanyalah sekedar dokumen. Begitu pula sebaliknya, implementasi yang konsisten mencerminkan kebijakan yang nyata.
Banyak organisasi yang mempunyai sistem keselamatan yang baik di atas kertas. Namun tantangannya muncul ketika sistem tersebut belum diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, bahkan berhenti sebagai slogan. Inilah mengapa perubahan perilaku menjadi kunci utama membangun budaya safety yang kuat-- baik di rumah, di tempat kerja, bahkan dalam organisasi yang lebih besar.
Pengalaman PTFI sebagai perusahaan tambang menunjukkan bahwa peningkatan budaya keselamatan berkontribusi signifikan terhadap perbaikan kinerja safety selama lebih dari dua dekade terakhir. Perjalanan Fatal Risk Management (FRM) perusahaan sejak 2017 menegaskan bahwa pendekatan sistematis, pembelajaran yang berkelanjutan, pemanfaatan kemajuan teknologi, serta keterlibatan aktif seluruh karyawan maupun kontraktor mampu mendorong perubahan nyata dalam menjaga keselamatan kerja. Pada saat yang sama, penting untuk menyadari bahwa tidak ada satu solusi pun yang dapat mencegah semua insiden. Continuous improvement tetap sangat penting. Karena pada akhirnya, safety starts with me.
Menjadi safety practitioner yang baik dimulai dari integritas dan keteladanan. Apa yang ingin kita lihat dari orang lain seharusnya kita lakukan terlebih dahulu. Ketika setiap individu mengambil peran dan memberi teladan bagi sekitarnya, budaya keselamatan akan tumbuh dengan sendirinya.
- Eman Widijanto, Vice President Mining Safety Division PTFI
Catatan: Artikel ini ditulis berdasarkan talk show : Safety Kalcer "Safety Bukan Sekedar Gaya, tapi Budaya" dalam rangka BK3N 2026, bersama narasumber Eman Widijanto, Vice President Mining Safety Division PTFI, pada hari Kamis, 29 Januari 2026.
(Adeline Nathania)
Kembali Ke List





