Timika – Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan Kopi Amungme Gold, dengan peluncuran dua varian baru — Robusta dan Blend — yang sekaligus memperkenalkan kemasan baru yang tampak lebih segar dan modern.
Namun, momen ini bukan sekadar peluncuran produk. Ini adalah simbol dari ketekunan, semangat, dan komitmen para petani lokal, yang telah menempuh perjalanan panjang sejak tahun 1998. Kala itu, budidaya kopi Arabika mulai diperkenalkan kepada masyarakat Suku Amungme melalui program Amungme Agroforestry (AFF). Lebih dari dua dekade kemudian, kerja keras ini membuahkan inovasi yang membanggakan.
Acara peluncuran produk dan kemasan baru ini diselenggarakan oleh Koperasi Produsen Amungme Gold Coffee (KPAGC) dan didukung oleh PT Freeport Indonesia serta Pemerintah Kabupaten Mimika, bertempat di Hotel Horison Diana pada tanggal 5 Juni 2025. Acara ini juga dirangkaikan dengan Rapat Anggota KPAGC, yang membahas strategi pengembangan usaha melalui diversifikasi produk dan perluasan pasar.
Dalam Rapat Anggota juga disepakati pembagian SHU sebesar Rp 574,4 Juta yang akan didistribusikan kepada anggota koperasi yang aktif.
“Sesuatu yang instan akan cepat habis. Tetapi sesuatu yang dibangun dari proses panjang dan benar akan bertahan lebih lama dan bekerja lebih baik,” ujar Nathan Kum, SVP Sustainable Developtment PTFI, memberi semangat kepada seluruh anggota KPAGC.
Pemerintah Kabupaten Mimika menyatakan dukungan penuh atas inisiatif ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat lokal dan promosi produk unggulan daerah.
“Pemerintah daerah pada prinsipnya akan selalu mendukung setiap upaya masyarakat. Kami berterima kasih kepada PTFI. Jika kita renungkan, koperasi ini telah melalui perjuangan dan tantangan yang tidak mudah,” ungkap Evert Hindom, Asisten III Setda Kabupaten Mimika.
Saat ini, Kopi Amungme Gold dikelola oleh para petani lokal Suku Amungme yang bermukim di sekitar area tambang, seperti Kampung Hoeya, Arwanop, Tsinga, Waa/Banti dan Jila dengan total lahan mencapai 38 hektare, melibatkan 162 petani, dan produksi tahunan sebanyak 1,7 ton biji kopi.
- Varian Arabika berasal dari wilayah dataran tinggi (1.000-2.000 mdpl) seperti Tsinga, Hoea, Aroanop, dan Waa Banti, dengan cita rasa yang cenderung asam.
- Varian Robusta ditanam di dataran rendah (200-800 mdpl) seperti Agimuga, Jila, dan Timika (SP7), serta wilayah lain di Papua, seperti Serui, yang menghasilkan rasa lebih pahit.
- Varian Blend merupakan kombinasi dari Arabika dan Robusta sehingga memiliki cita rasa yang seimbang (Asam + Pahit)
Dengan peluncuran varian baru dan kemasan yang lebih menarik ini, PTFI berharap dapat menumbuhkan semangat baru di kalangan petani binaan.
“Ke depan, akan ada perluasan lahan dan peningkatan produksi kopi dari kampung-kampung Amungme,” ujar Arnoldus Sanadi, Group Leader Highland Agricultural Development.
John Murib, Liaison Officer Program Pengembangan UMKM PTFI, juga menambahkan harapannya “Kami berharap varian baru ini dapat meningkatkan profit koperasi, Jika profit meningkat, maka kesejahteraan anggota juga akan meningkat. Ini akan menjadi motivasi untuk terus menghasilkan produk berkualitas,” tutupnya.
Kembali Ke List






