Kolaborasi Terpadu PTFI dan Pemda Mimika Tangani Dampak Longsor di Lembah Waa Banti
PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Pemerintah Kabupaten Mimika bergerak cepat menanggapi bencana tanah longsor yang melanda kawasan Lembah Waa Banti. Tingginya curah hujan pada Sabtu, 25 April 2026, mengakibatkan longsor di 8 titik bahkan putusnya jalan utama Tembagapura-Banti di area Kalkaloni. Menyikapi kondisi tersebut, PTFI dan Pemkab Mimika segera melakukan langkah-langkah pemulihan serta pengendalian guna meminimalkan risiko lanjutan bagi masyarakat dan wilayah terdampak.
Respon cepat dan terpadu ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan. PTFI mengerahkan tim dari lintas divisi dan alat berat, sementara Pemkab Mimika melakukan peninjauan lapangan melalui Tata Pemerintahan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kantor Distrik Tembagapura, beserta dukungan dari TNI-Polri.
“Sejak menerima laporan longsor di Lembah Waa Banti , prioritas utama kami adalah keselamatan warga dan stabilitas wilayah. Fokus utama kami adalah memastikan tidak ada korban jiwa serta mencegah risiko longsor susulan. PTFI, Pemkab Mimika, dan Pihak TNI-POLRI berkomitmen mendukung pemulihan yang cepat dan tepat melalui sinergi yang solid” ujar Claus Wamafma, Direktur & EVP Sustainable Development PTFI.
Tim gabungan turun ke lapangan pada Selasa, 28 April 2026 untuk meninjau titik-titik rawan dan melakukan pengawasan secara terukur, efektif dan berkelanjutan. “Yang menjadi prioritas adalah menyambung kembali akses yang menghubungkan Tembagapura dan Kampung Banti. Serta mengamankan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) dari risiko longsor” ucap Bertran Puhili – Kabid. Sumber Daya Air PUPR Mimika.
Mencapai pemulihan akses jalan tentu banyak tantangan dan tidak mudah. Secara teknis, PTFI mengerahkan dukungan penuh mulai dari alat berat hingga menurunkan tenaga ahli dari berbagai bidang. Lima hari pasca putusnya jalan, PTFI berhasil membuat jalan alternatif sepanjang 102 meter dengan mengerahkan 4 unit excavator, 2 unit dozer, 1 unit compactor dan 5 unit ADT setiap hari untuk upaya pembersihan material longsor dan perbaikan. Akses jalan ini krusial untuk percepatan pemulihan di titik rawan lain dan pendistribusian logistik terutama untuk kebutuhan di RSWB.
Pemkab Mimika melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika memastikan bahwa operasional RSWB tetap berjalan. Termasuk ketersediaan obat-obatan dan fasilitas pendukung. Koordinasi intensif dengan PTFI dilakukan untuk menjamin keselamatan tenaga kesehatan serta penanganan potensi longsor di sekitar RSWB.
Menanggapi langkah-langkah yang telah dilakukan, Dev Richard Tatiratu, Kepala Distrik Tembagapura, mengapresiasi dukungan PTFI dan Pemda. “Kerjasama dan kolaborasi seperti ini harus kita pertahankan untuk pelayanan terbaik kepada masyarakat. Untuk saat ini, masyarakat tetap jadi prioritas kami. Kami akan tetap berkoordinasi dengan PTFI supaya bagaimana kami dapat menyalurkan bantuan kepada masyarakat” tambah Dev.
Bantuan kepada masyarakat di Lembah Waa Banti telah disalurkan oleh Pemkab Mimika melalui Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan, dan BPBD. Bantuan yang diberikan adalah berupa bahan-bahan seperti beras, minyak goreng, bumbu dapur, bahan makanan, popok, tikar, terpal, alat kebersihan, dan bantuan lain. PTFI mendukung pengiriman bantuan ini dari Timika hingga tiba di Banti. Pembagian bantuan dilakukan pada Sabtu, 2 Mei 2026 oleh PTFI dan Kantor Distrik Tembagapura.
BPBD Mimika melalui Aser Korwa, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD menghimbau masyarakat untuk tetap waspada potensi hujan dan longsor. ”Tetap siap-siaga ketika sedang cuaca hujan khususnya yang berada di wilayah rawan. Tetap waspada dan jangan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri.” (MRS)
Kembali Ke List





