Meningkatkan Keselamatan Pertambangan Melalui Kepemimpinan, Keterlibatan, dan Keselamatan Psikologis
Industri pertambangan dipahami secara global sebagai salah satu industri paling berbahaya, di mana kinerja keselamatan menjadi penentu utama keberlanjutan operasional. Meskipun ada kemajuan teknologi yang mengurangi keterpaparan bahaya dan instrumen regulasi yang ketat mengatur tentang keselamatan, sektor ini masih menghadapi tantangan keselamatan yang signifikan. Secara khusus, kejadian insiden kecelakaan tambang banyak dialami oleh pekerja kontrak yang dipekerjakan oleh penyedia jasa pertambangan dibandingkan dengan pekerja tetap. Perbedaan statistik insiden kecelakaan ini karena sebagian besar kegiatan penambangan berisiko tinggi dilakukan oleh pekerja kontrak, dan mereka beroperasi dalam skala yang jauh lebih besar dibanding operasional yang dikelola pemilik perusahaan.
PT Freeport Indonesia sebagai perusahaan tambang mineral afiliasi dari Freeport-McMoRan (FCX) dan Mining Industry Indonesia (MIND ID) memiliki jumlah karyawan sebanyak 33.486 orang untuk seluruh wilayah operasional dari jobsite Papua hingga Smelter Gresik Manyar dengan keterlibatan karyawan kontraktor sekitar 80%. Dengan jumlah dan komposisi yang sangat besar, pencegahan kecelakaan di tempat kerja untuk melindungi keselamatan pekerja, pemenuhan terhadap regulasi pemerintah dan menjaga keberlangsungan atau stabilitas operasional pertambangan menjadi hal yang sangat penting.
Sebuah penelitian empiris yang dilakukan oleh Quansah, P. E., Zhu, Y., & Guo, M. (2023) terhadap 539 pekerja kontrak pertambangan menganalisi dampak terintegrasi dari kepemimpinan keselamatan, keterlibatan karyawan, dan keselamatan psikologis terhadap kinerja keselamatan dalam industri berisiko tinggi. Hasil penelitian menegaskan bahwa kepemimpinan keselamatan yang ditandai dengan komitmen manajemen, komunikasi, dan dukungan secara langsung meningkatkan kinerja keselamatan (diukur melalui kepatuhan, partisipasi, dan penurunan tingkat insiden).
Selain itu, studi ini mengungkapkan mediasi serial yang signifikan kepemimpinan keselamatan yang efektif mendorong iklim keselamatan psikologis di lingkungan kerja. Karyawan merasa aman untuk menyampaikan kekhawatiran tanpa rasa takut, yang pada gilirannya dapat meningkatkan keterlibatan karyawan dalam aktivitas keselamatan, sehingga akhirnya menciptakan hasil keselamatan yang unggul.
Pra-Kegiatan BK3N 2026 yang sudah dilakukan di bulan Desember 2025 melalui serangkaian kegiatan seperti Manajemen Inspeksi serentak di dataran tinggi dan rendah (8 Desember 2025), Pertemuan Triwulan PJO dataran tinggi dan rendah (10 dan 12 Desember 2025) dan Manajemen Lunch di dataran tinggi (18 Desember 2025) memiliki inisiatif untuk menumbuh kembangkan semangat kepemimpinan keselamatan, keselamatan psikologis dan keterlibatan pekerja melalui interaksi yang terjalin antara PTFI Manajemen, kontraktor dan karyawannya.
Kegiatan tersebut menjadi media komunikasi dan kolaboratif yang produktif melalui diskusi isu-isu penting seperti bagaimana praktik kerja selamat dilakukan, performa kinerja keselamatan, Potensi Peristiwa Fatal (PFE) yang baru terjadi, pelatihan dan peningkatan kompetensi kontraktor. Selain hal-hal tersebut, Manajemen PTFI juga mendapatkan umpan balik, saran, dan keluhan dari perwakilan kontraktor dan karyawan, sehingga terbentuk perilaku psikologis keselamatan yang baik dari karyawan.
Melalui rangkaian program Pra-Kegiatan BK3N 2026 ini diharapkan dapat membangun budaya keselamatan yang kuat dengan mendorong kepemimpinan keselamatan, keselamatan psikologis, dan keterlibatan pekerja, sambil meningkatkan komunikasi dan kolaborasi antara manajemen, kontraktor, dan karyawan. (Maychel Gino Simanjuntak)
Kembali Ke List





